BARISAN MUJAHID

BARISAN MUJAHID

 

KUNINGAN (19/9) Awal dari perjuangan adalah pengorbanan. Dalam meniti jalan yang telah Tuhan sediakan seyogyanya manusia mampu memberikan nilai-nilai kesyukuran di setiap langkanya, karena seorang mujahid bukan ia yang berani mati, namun dia yang senantiasa menjadikan setiap langkahnya sebagai wujud kesyukuran dan kedekatan dengan Sang Rabb. Makna mujahid adalah dia yang tak akan pernah berhenti sebelum sampai pada tujuan yang telah dicanangkan, berani mengambil segala risiko yang mungkin dapat membuatnya harus terjatuh.

Jika mahasiswa adalah salah satu mujahid, maka ilmu-ilmu yang dicari dan segala aktifitas-aktifitas yang dilakukan harus mengandung unsur kebaikan dan kebermanfaatan. Potensi manusia itu luas, namun jika potensi itu tidak diolah dengan baik maka sampai kapanpun tidak akan menemukan titik kepuasan dan percaya diri dengan apa yang ia miliki. Sungguh, Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik, Allah mengaruniakan otak untuk berfikir, kekuatan untuk senantiasa berjihad, anggota badan untuk melakukan banyak hal, dll. Namun terkadang masih banayk ditemui manusia-manusia yang masih sibuk dengan eluhannya, mereka masih fokus dengan perasaan ketidakmampuannya.

Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 69 tentang jihad di jalanNya.

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Untuk saat ini kita tidak perlu dengan jihad-jihad perang, kita hanya perlu menajamkan fikiran dan meningkatkan keimanan karena zaman-zaman saat ini banyak sekali perang pemikiran. Banyak oknum-oknum yang ingin menghancurkan islam yaitu dengan mempengaruhi pemikiran-pemikiran umat islam.

 

Jadi, sebagai mahasiswa kritis dan aktif dalam pergerakan perjuangan islam, terlebih mahasiswa adalah para akademisi yang masih memiliki kekuatan fisik serta kekuatan dalam berfikir. Layaknya kita berkiblat kepada para mujahid-mujahid zaman dulu yang masih muda sudah berani mengikuti perang seperti Sultan Muhammad Al-Fatih dan Ali bin Abi Thalib.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *