KETIKA LELAH MENJADI LILLAH

KETIKA LELAH MENJADI LILLAH

 

KUNINGAN (3/9) Perjalanan ini panjang, Allah telah memberikan rambu-rambu agar kita selalu berada di jalan yang diridhoi. Lalu tugas kita hanyalah meletakkan jiwa dan diri pada koridor yang telah Allah sediakan, yaitu melakukan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Misalnya, umur manusia pendek dan terbatas maka dengan karunia Allah yang diberikan kepadanya, ia dapat memperpanjang umurnya dengan melakukan amalan yang mengalir pahalanya (jariyah). Dia terus dianggap hidup walaupun dia telah meninggal dunia. Dia tetap ada dengan amal sholeh yang pernah dilakukannya walaupun jasanya telah tiada.

Memanglah tak bisa dipungkiri lagi, perjuangan ini melelahkan. Namun, jika setiap lelah yang kita tuai untuk mengharap keridhoanNya maka kebaikan-kebaikan yang akan kita dapat. Kelelahan akan berubah menjadi lillah yang sesuangguhnya, terlebih bagi seorang penghafal Qur’an sekaligus mahasiswa yang telah bersahabat dengan kesibukan-kesibukan, namun tetap harus mengcover lelah itu menjadi lillah agar langkah ini terhindar dari beban yang akan mengantarkan kita pada kata putus asa.

افضل الصدقات : ظل قسطاط فى سبيل الله عز وجل, او منيحة خادم في سبيل الله, أوطروقة فحل فى سبيل الله

“sedekah yang paling utama ialah memberikan tenda, memberikan seorang pembantu, atau seekor unta untuk perjuangan di jalan Allah SWT”

Sungguh, perjuangan di jalan Allah merupakan amalan yang memang berada pada taraf tinggi di agama Islam. Jadi, lakukan segala kebaikan hingga lelah tak lagi dirasakan, karena kebaikan-kebaikan hari ini akan menjadi amalan yang memiliki manfaat lama dan lebih langgeng kesannya.

Allah telah menganugerahkan segalanya bagi manusia, lalu wujud kesyukuran itu seperti apa?, tidak lain adalah dengan menggunakan kenikmatan itu kepada hal-hal yang mendekatkan kita kepadaNya, menumbuhkan cinta, serta meningkatkan keimanan kepadaNya. Dalam hal ini, seyogyanya seorang penuntut ilmu memiliki keuletan, dan mewujudkan segala kesyukuran nikmat itu dengan memaksimalkan segala usaha, doa, dan ikhtiyar. Kemudian, menjadikan keletihan dan kepayahan dalam menuntut ilmu, sebagai sarana dalam mewujudkan kehakikian ilmu walaupun kita taka ada lagi di dunia.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *