MENJADI SARJANA AHLU QURAN

KUNINGAN- (22/8) Kata ini tak asing lagi, Menjadi Sarjana Ahlu Quran. Sebuah motto yang melingkupi tujuan akhirat, yaitu menjadi ahlu quran dan ahlullah. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Al-Multazam, merupakan salah satu perguruan tinggi yang saat ini tetap eksis dalam mencetak seluruh mahasiswanya menjadi penghafal Al-Quran sekaligus insan akademisi yang akan selalu berkiprah pada ummat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Qurani.

Hal ini tampak dari aktivitas-aktivitas mahasiswa yang didominasi dengan kegiatan berbasis Al-Quran, dari mengahafal hingga muraajah. Bahkan di kegiatan perkuliahan sore pun tetap Al-Quran menjadi acuan dalam pembelajaran, seperti Tafsir, Ulumul Quran, Bahasa Arab, dll. Perkuliahan ini menjadi penunjang kemajuan mahasiswa di bidang akademisi, yaitu selain menghafal Al-Quran mereka juga terus disupply ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Sehingga dalam actionnya mahasiswa STIQ Al-Multazam dapat berada di posisi apapun, dalam artian mahasiswa memiliki science Basic dan Qurani Basic.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Ayat tersebut disebut 4 kali dalam Al-Quran, yaitu sebagai penegasan bahwasanya Allah memudahkan bagi siapapun yang akan mempelajari Al-Quran. Di sisi lain juga sebagai perintah untuk menghafalkannya dan mengambil sebagian nasihat bagi diri sendiri. Sebab tidak ada yang lebih hafal tentang Al-Quran selain daripada orang yang mengambilnya sebagai nasihat buat dirinya. Dengan ayat ini bisa mendoktrin dan memberikan peringatan kepada seluruh mahasiswa STIQ Al-Multazam dengan mengikhlasakan segala niat serta berusaha semaksimal mungkin untuk menghafal Al-Quran, karena Al-Quran merupakan petunjuk yang sudah jelas kebenarannya.

Dalam menghafal Al-Quran, hakikatnya kemampuan adalah bukan unggulan. Namun kemauan yang tinggi akan menghantarkan kepada kemampuan yang senantiasa diridhoi olehNya. Begitupun dengan wujud kesyukuran seorang penghafal Al-Quran ialah dengan memurajaahnya.

Sehingga di STIQ Al-Multazam ini, kewajiban seorang mahasiswa yaitu memurajaah seluruh hafalan yang didapat, karena murajaah merupakan media untuk menjaga hafalan para mahasiswa. Selain itu di tingkat akhir mahasiswa juga harus melaksanakan ujian Tahfidz, yaitu dengan menyetorkan hafalannya 1 juz dalam satu duduk. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *